Teras UrbanTeras Urban
Sumber gambar / Image: SunDawn, “Jakarta Pollution November 24”, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Naskah Kerja · TU-WP-2026-06
Kesehatan Masyarakat & Lingkungan

Polusi Udara PM2.5 dan Beban Kesehatan di Jakarta: Sintesis Pemantauan dan Implikasi Kebijakan

Tim Riset Teras Urban · 3 Juni 2026 · 9 menit baca
Unduh PDF
Abstrak

Polusi udara partikulat halus (PM2.5) merupakan risiko kesehatan lingkungan utama di Jakarta. Naskah ini menyintesis data pemantauan kualitas udara dan membandingkannya dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta menelaah pola musimannya. Konsentrasi rata-rata tahunan jauh melampaui pedoman WHO, dan kota ini berulang kali menempati peringkat paling berpolusi. Kami berargumen bahwa pengendalian memerlukan tata kelola lintas sektor berbasis data pemantauan spasial dan inventarisasi sumber emisi.

Kata kunci: PM2.5, kualitas udara, kesehatan masyarakat, pedoman WHO, Jakarta
Klasifikasi: epidemiologi lingkungan, ekonomi kesehatan

1. Pendahuluan

Paparan PM2.5 berkaitan dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular serta kematian dini. Jakarta secara berkala menjadi sorotan akibat kualitas udara yang buruk, termasuk ketika dinobatkan sebagai kota paling berpolusi pada Agustus 2023.[4] Naskah ini menilai besaran dan pola masalah serta implikasi kebijakannya.

2. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori

WHO menetapkan pedoman kualitas udara, dengan ambang tahunan PM2.5 sebesar 5 µg/m³, disertai target antara (interim targets) untuk transisi bertahap.[5] Literatur epidemiologi lingkungan menautkan konsentrasi PM2.5 dengan beban penyakit, sementara literatur ekonomi kesehatan menyoroti biaya eksternal polusi. Kerangka ini menempatkan kualitas udara sebagai persoalan kebijakan publik dengan dimensi spasial.

3. Data dan Metode

Naskah memakai sintesis data pemantauan dari lembaga independen dan literatur, dengan pembandingan terhadap pedoman WHO.[1][2][3] Analisis bersifat deskriptif, menelaah rata-rata tahunan, peringkat global, dan pola musiman. Keterbatasan mencakup perbedaan metode pengukuran dan cakupan stasiun pemantau.

Tabel 1. Sumber data utama dan cakupan.
SumberJenis dataCakupan / periode
IQAir / CREAKonsentrasi PM2.5 & peringkatJakarta, 2023–2024
WHOPedoman kualitas udaraGlobal
WRI IndonesiaAnalisis sumber & dampakJakarta
Stasiun pemantauDeret waktu PM2.5Jakarta, 2019–2023

4. Hasil

Konsentrasi rata-rata PM2.5 Jakarta pada 2024 dilaporkan sekitar 41,7 µg/m³, setara indeks kualitas udara (AQI) 116 dan sekitar 8,3 kali pedoman tahunan WHO.[1] Dalam laporan kualitas udara dunia 2024, Indonesia tercatat sebagai negara terburuk di Asia Tenggara dan peringkat ke-15 terburuk secara global.[2] Pola musiman menunjukkan puncak konsentrasi pada Juni–Agustus (musim kemarau) dan penurunan pada musim hujan.[1][3]

41,7µg/m³ PM2.5 (2024)
8,3×pedoman tahunan WHO
#15negara terburuk global
Jun–Agspuncak musiman
012,324,636,949,241,7Jakarta 20245Pedoman WHO
Gambar 1. Rata-rata tahunan PM2.5 Jakarta (2024) terhadap pedoman WHO (µg/m³). Sumber: CREA; IQAir; WHO.

5. Pembahasan

Pelampauan pedoman WHO hingga berlipat menyiratkan beban kesehatan yang signifikan dan persisten. Pola musiman menunjukkan interaksi antara sumber emisi lokal dan kondisi meteorologis, sehingga intervensi harus mempertimbangkan dimensi temporal dan spasial.

Karena sumber emisi beragam (transportasi, industri, dan pembakaran), pengendalian menuntut koordinasi lintas sektor dan inventarisasi sumber yang akurat. Pemantauan beresolusi spasial memungkinkan penargetan intervensi pada titik dan periode kritis.

6. Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi

Pertama, perkuat jaringan pemantauan dan keterbukaan data agar kebijakan berbasis bukti. Kedua, susun inventarisasi sumber emisi untuk menargetkan pengendalian (transportasi dan industri). Ketiga, integrasikan kebijakan udara bersih dengan transisi moda dan energi, serta sistem peringatan dini pada periode puncak.

7. Keterbatasan dan Agenda Riset Lanjutan

Sintesis ini bertumpu pada rata-rata agregat. Riset lanjutan sebaiknya memodelkan paparan tingkat individu dan mengestimasi beban penyakit serta biaya ekonomi melalui kerangka health impact assessment.

8. Kesimpulan

Kualitas udara Jakarta melampaui pedoman WHO secara konsisten dengan pola musiman yang jelas. Pengendalian efektif menuntut tata kelola lintas sektor yang berbasis pemantauan spasial dan inventarisasi sumber emisi.

Referensi

  1. Centre for Research on Energy and Clean Air (2024). “Indonesia air quality 2024.” https://energyandcleanair.org/publication/indonesia-air-quality-2024/
  2. IQAir (2024). “World Air Quality Report 2024 / Jakarta.” https://www.iqair.com/indonesia/jakarta
  3. WRI Indonesia. “7 Things to Know About Jakarta’s Air Pollution Crisis.” https://wri-indonesia.org/en/insights/7-things-know-about-jakartas-air-pollution-crisis
  4. Mongabay (2023). “Jakarta snags ‘most polluted’ title.” https://news.mongabay.com/2023/08/jakarta-snags-most-polluted-title-as-air-quality-plunges-and-officials-dither/
  5. World Health Organization. “WHO Global Air Quality Guidelines (2021).” https://www.who.int/publications/i/item/9789240034228

Naskah lainnya